Saya punya bayi dan saya yakin madu punya dzat istimewa karena terdapat dalam Al Quran, bolehkah bayi mengkonsumsi madu? agar dia sehat

Asupan terbaik untuk bayi dari usia 0 – 6 bulan adalah ASI, karena ASI bayi bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Setelah mencapai usia 6 bulan selain ASI tetap diberikan. Alangkah lebih baiknya anak mulai dikenalkan dengan makanan lainnya atau yang dikenal dengan istilah makanan pendamping ASI (MP ASI).

MP ASI semestinya disesuaikan dengan usia bayi, bisa terbuat dari sari buah, buah yang dihaluskan kemudian bubur saring sampai akhirnya makanan dewasa. Seperti halnya madu bisa di konsumsi rutin setiap hari agar anak kita tidak mudah terkena penyakit.

Bolehkah Bayi Mengkonsumsi Madu?

Permasalahan pemberian madu untuk anak di bawah 1 tahun ini memang masih kontroversial. Menurut penelitian modern yang baru-baru ini dilakukan, madu asli (yang diambil langsung dari sarang lebah tanpa diolah lagi) ternyata mengandung kuman clostridium botulinum yang dibawa oleh kaki-kaki tawon. Bakteri ini memproduksi zat beracun yang bisa menyebabkan penyakit botulisme pada bayi.

Penyakit jenis keracunan makanan ini akan mengganggu sistem saraf bayi dan bisa berakibat fatal. Bayi yang kurang dari 1 tahun masih membangun daya kekebalan tubuhnya. Pada bayi, bakteria baik di saluran cerna belum selengkap orang dewasa. Padahal, bakteria baik ini bisa mengatasi spora botulisme dan mencegahnya berkembang biak.

Sehingga, secara otomatis tidak akan terjadi pembentukan zat beracun yang berbahaya tersebut. Tapi, kasus keracunan itu sendiri memang jarang terjadi karena tidak semua madu mengandung bakteri tersebut. Maka dari itu, tidak aneh bila banyak orang tua memberikan madu pada bayinya tanpa pernah terjadi dampak negatif apapun.

Para ilmuwan yang mengatakan bahwa madu tersebut berbahaya, hanyalah bersandar pada penelitian yang dilakukan pada tahun 1978, Di sini

Dalam jurnal tersebut dikatakan bahwa beberapa sampel madu telah terbukti ditemukan bakteri C. botulinum.

Namun menurut kami ada yang janggal dalam penemuan tersebut seperti :

  1. Dasar ilmiah yang digunakan adalah sebuah penelitian lama, yang diterbitkan tahun 1978. Dimana pada penelitian tersebut tidak menjelaskan mengenai kemasan dari sampel madu yang positif mengandung bakteri C. botulinum.
  2. Walaupun sebenarnya sebuah penelitian ilmiah atau buku bisa dijadikan sebuah rujukan ilmiah memiliki batas waktu yaitu 10 tahun. Namun penelitian ini diterbitkan tahun 1978, sehingga bagaimana validitasnya bisa dipertanggung jawabkan?
  3. Bakteri C. botulinum bisa berdampak sindroma botulisme, menurut WHO dan beberapa buku menerangkan bahwa sindroma botulisme dipengaruhi oleh faktor kebersihan yang buruk dan penggunaan kaleng sebagai kemasan.

Coba anda baca keterangannya pada link ini

Tentunya itu terjadi bukan hanya madu, juga daging, ikan, sayur, dan buah-buahan pun berdampak resiko yang sama. Dengan catatan higiene yang kurang dan penggunaan kemasan kaleng.

Artinya susu formula dengan menggunakan kemasan kaleng pun memiliki resiko yang sama. Lalu kenapa masih dianjurkan kepada para bayi oleh tenaga kesehatan?

Nah, bagaimana menyikapinya?

Menurut kami, dengan berbagai pengalaman seputar madu yang sungguh ajaib, percaya bahwa madu sangat aman dikonsumsi oleh berbagai kalangan, meski ia bayi sekalipun. Karena khasiat madu sendiri telah disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:

“Dari perut lebah itu keluar cairan dengan berbagai warna, di dalamnya terdapat kesembuhan bagi manusia.” (QS. An-Nahl: 69)

Bolehkah bayi mengkonsumsi madu Tidak ada pengecualian untuk bayi dalam tafsir ataupun hadits yang menjelaskannya. Madu adalah syifa (obat). Tidak mungkin Allah dan RosulNya memerintahkan kita minum madu tetapi tidak baik untuk kita.

Dari banyak kasus yang ditemukan bayi yang diberi madu tidak ada indikasi menyebabkan penyakit, justru sangat baik untuk mencegah penyakit datang. Namun memang untuk bayi di bawah 1 tahun, lebih baik diberi air madu (madu yang dicampur dengan air) jangan diberi madu langsung. Jalan amannya, berikan untuk bayi dan balita hanya yang refined dan purified with no additive (sudah dibersihkan dan dimurnikan)- dr.Adi Tagor Sp.A dari RS Pondok Indah Jakarta.

Solusi Agar Bayi Bisa Mengkonsumsi Madu

Menurut beberapa penyelidikan ilmiah diketahui bahwa madu merupakan unsur yang paling baik untuk mencampuri susu formula. Seorang dokter spesialis anak, jarfis mengatakan dalam bukunya “ath-Thibbusy-syi’by,” “Seorang dokter ikut bertanggung jawab memilih makanan yang paling tepat bagi bayi sesuai dengan kebutuhannya.

Sebab ada sebagian bayi yang sangat sensitive, yang berarti membutuhkan kehati-hatian ekstra dalam menentukan makanan dan menjaga kebersihannya. Kalau air susu ibu tidak mencukupi, maka bisa digunakan air susu sapi. Tetapi inu pun masih harus menggunakan campuran tertentu dan tidak mesti cocok untuk bayi. Maka yang paling baik adalah madu alami. Sebab ia bisa diterima oleh tubuh bayi tanpa resiko apa-apa.”

Disamping sebagai makanan yang bergizi, madu juga berfungsi sebagai obat, bisa membersihkan alat pencernaan dan merupakan makanan yang sangat lembut.

Bayi yang diberi makanan campuran madu tidak mudah terserang penyakit perut, seperti mules dan mencret. Karena proses yang dilakukan madu tidak menimbulkan keracunan di dalam usus. Kebiasaan mengompol juga bisa dicegah setelah anak berumur 3 tahun dengan cara memberikan satu dua sendok madu sebelum anak tidur.

Madu juga bisa dijadikan obat penangkal batuk, terutama bagi ibu hamil atau bayi yang sedang disusui. Madu bisa dicampur dengan air putih lalu dipanaskan dan bisa diminumkan secara rutin 3 kali sehari.

Selain madu minyak zaetun juga bisa ditambahkan pada makanan anak (MP ASI) sebagai sumber lemak. Sari kurma bisa diberikan sesekali (tidak harus rutin), dan habbatussada juga diberikan sesekali (tidak rutin). Habbatussauda terutama diberikan jika anak mengalami flu, batuk dan pilek.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here